Sabtu, Februari 24, 2024
BerandaUncategorizedStigma Sosial Terhadap Tatto Di Seluruh Dunia

Stigma Sosial Terhadap Tatto Di Seluruh Dunia

Stigma Sosial Terhadap Tatto terus menjadi banyak orang mempunyai tato serta perusahaan- perusahaan wajib menerima realitas itu. Tetapi persoalannya tidak semudah itu.

“Dalam sebagian tahun terakhir, tatto kian banyak orang menyukainya.”

Stigma Sosial Terhadap Tatto

Seperti itu komentar George Bone tentang tato yang saat ini jadi sesuatu perihal lumrah. Apalagi dalam Kesepakatan Tatto London yang mereka klaim selaku ajang tato terbanyak di Eropa, Bone senantiasa menonjol.

Sempat juga selaku orang yang sangat bertato di Inggris, Bone yang saat ini berumur 74 tahun masih mengelola secara penuh studio tatonya. Tetapi, Bone nampak tirrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrdak terkesan pada pergantian pemikiran publik terhadap tato.

” Tato berganti jadi hanya pernak- pernik fesyen. Aku menentang itu sebab tato bukan pernak- pernik, melainkan opsi hidup,” ucapnya.

” Aku terbiasa jadi orang yang dikira berbeda, tidak pantas, tetapi saat ini aku jadi orang wajar. saya wajib memikirkan metode hidup lain!”

Bone seakan menyepelehkan pesonanya saat tato terus tumbuh di bermacam negeri. satu sisi, tidak tiap dikala Kamu bisa memandang manula berselimut seni rajah badan.

Lembaga studi berbasis di Berlin, Jerman, Dalia Research, menggelar telaah komentar terpaut tato terhadap 9. 000 orang di 18 negeri pada tahun 2018. Mereka menciptakan kalau 46% responden di Amerika Serikat memiliki tato.

BACA JUGA : 7 Tempat Wisata Terindah di Dunia yang Harus Dikunjungi

Pada survei yang sama, ada 47% responden Stigma Sosial Terhadap Tatto di Swedia serta 48% di Italia.

Sedangkan itu dalam telaah komentar tahun 2010 yang coba Pew Research Centre dikenal kalau 38% milenial di AS bertato. Walaupun begitu, 70% di antara mereka mengaku tato tersebut tidak terletak di bagian badan yang gampang nampak.

Di banyak tempat, tato saat ini tidak lagi jadi kepunyaan pemberontak. Anthony Fawkes, salah satunya.

Berstatus selaku konsultan teknologi data buat bermacam bank investasi, Fawkes tiba ke kesepakatan tato di London. Suatu tatto di badannya oleh Nikole Lowe( 47 tahun), owner studio Good Times Tattoo di Shoreditch, London Timur.

Lowe mengerjakan foto naga rumit di dekat lengan kiri Fawkes. Foto itu pada kesimpulannya hendak terdiri dari 5 bagian.

” Aku hendak menatto foto pendekar Shaolin bertarung dengan fauna, foto ular, harimau, naga, macan tutul, serta mesin derek,” kata Fawkes. Saat sebelum proses pembuatan tato baru itu, saat ini lengan kanannya telah bertato ular serta harimau.

” Awal mulanya aku berpikir wajib menutup segala tatto itu saat bekerja, tetapi bagi aku tato telah diterima secara luas oleh warga. Salah satunya respon yang aku terima merupakan pujian,” ucap Fawkes.

Fawkes memperkirakan foto utuh tatonya wajib ditebus dengan harga US$15 ribu ataupun dekat Rp204 juta. Biayanya bergantung seberapa lama proses pengerjaan tatonya.

Nilai itu lumayan besar tetapi senantiasa saja, tato tidak universal untuk orang- orang berpenghasilan besar di industri handal yang mapan.

Beberapa politikus serta pebisnis pula bertato, di antara lain Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau serta direktur eksekutif News Corp, Lachlan Murdoch. Logikanya, bila pimpinan negeri serta wujud pebisnis berarti bertato, hingga seni rajah badan ini pula hendak warga terima. Tetapi realitasnya tidak demikian.

Stigma sosial

Bila beberapa orang aman memperlihatkan Stigma Sosial Terhadap Tatto mereka, di Inggris, AS, serta sebagian negeri yang lain, sebagian industri masih melarang tato di golongan pegawainya.

Lembaga semacam Angkatan Darat AS mempunyai syarat tentang apa yang boleh serta yang mereka larang.

Sedangkan dengan alibi pembebasan budaya, maskapai Air New Zealand mencabut ketentuan tentang tato di bagian badan yang tidak nampak. Di Selandia Baru, kebijakan supaya suku Maori menutup tato memunculkan polemik.

Tidak hanya pengecualian terhadap budaya tertentu, perilaku industri yang konservatif tidak serta- merta tidak sejalan dengan norma sosial.

Kamu bisa jadi berpikir kalau di negara- negara dengan persentase penduduk bertato yang besar, hendak terdapat pemikiran yang lebih santai tentang seni badan. Tetapi realitasnya tidak senantiasa semacam itu.

Riset yang coba universitas Iowa Utara buat oleh Kristin Broussard serta Helen Harton mengatakan kalau apalagi di AS, menggunakan tato selaku pelapis lengan hendak mendapat ganjaran stigma sosial.

BACA JUGA : Tradisi Unik Suku Kreung Kamboja, Bebaskan Wanita Beranjak Berusia buat Membawa Laki- laki Masuk Kamar

Dalam kajian mereka tahun 2017, Broussard serta Harton mengaitkan 2 kelompok. Tim awal terdiri dari pelajar berumur rata- rata 19 tahun, sebaliknya kelompok lain merupakan penduduk AS dengan median usia 42 tahun.

2 kelompok itu lalu melihat gambar pria serta wanita yang mempunyai tato dekat lengan mereka. Gambar yang sama pula mereka perlihatkan kepada responden, tetapi sehabis lewat proses penyuntingan yang menghapus tato.

2 tim responden itu mereka minta memperhitungkan orang- orang bertato dalam gambar tersebut. Evaluasi mereka berikan dalam 13 kepribadian serta kepada watak personal semacam kejujuran, kesuksesan, kecerdasan, serta seberapa besar mereka bisa dipercaya.

Sebagian besar di kelompok pelajar berkomentar kalau wanita bertato lebih kokoh serta mandiri. Tetapi secara universal 2 kelompok lebih bahagia dengan gambar orang- orang tidak bertato.

Broussard mengaku kaget 2 kelompok responden itu mempunyai evaluasi yang sama.” Banyak anak muda berumur 19 tahun mempunyai tato, jadi Kamu memperhitungkan mereka semestinya tidak bermasalah dengan isu ini,” ucapnya.

Walaupun 38% milenial di Amerika Serikat mempunyai tato, cuma 30% di antara mereka yang menunjukkannya ke publik tiap hari.

Hendak namun Broussard menyebut walaupun seorang mempunyai tato, ia dapat saja senantiasa menaruh pemikiran negatif tentang seni rajah badan tersebut.

” Publik cenderung menginternalisasi stigma, tercantum bila Kamu mempunyai tato. Bila terdapat stigma warga yang kokoh terhadapnya, Kamu hendak memendam serta mempercayainya.”

” Sikap ini seakan baik- baik saja buat aku, tetapi tidak buat mereka,” kata Broussard.

Skala penerimaan Stigma Sosial Terhadap Tatto

Stigma Sosial Terhadap Tatto

Stigma Sosial Terhadap Tatto Jadi, apalagi bila Kamu seseorang CEO yang mempunyai tato, Kamu bisa jadi tidak hendak mempekerjakan seorang yang mempunyai tato.

Johnny C Taylor Jr, presiden serta CEO di lembaga berbasis di AS, Society for Human Resource Management, yang mewakili dekat 300 ribu praktisi personalia handal SDM, menyebut memiliki skala penerimaan yang dapat mereka terima menyangkut tato.

” Dalam konteks tato yang sangat dapat orang terima sampai sangat tidak bisa mereka terima, bila Kamu dapat menyembunyikannya, tidak apa- apa,” ucap Taylor.

” Terdapat pemberi kerja yang berkata Kamu boleh bertato, tetapi itu sepatutnya tidak jadi kendala; semacam menutupi separuh wajah Kamu ataupun yang menyinggung orang lain, semacam foto perempuan berpakaian sedikit di bisep seseorang laki- laki.”

” Terakhir, terdapat jenis yang tidak bisa diterima, serta itu umumnya tato yang berada wajah Kamu serta itu merupakan suatu yang tidak bisa dihindari oleh siapa juga, ataupun kala betul- betul kontroversial, misalnya foto swastika,” kata Taylor.

” Dalam zona yang lebih konservatif, misalnya jasa keuangan, perbankan, serta layanan kesehatan, ada kebijakan yang lebih konservatif pula menimpa tato,” tambah Taylor.

” Kami menciptakan lebih banyak kebijakan liberal di zona hiburan, apalagi di industri hiburan di mana orang- orang di tingkatan sangat senior bisa jadi mempunyai tato yang nampak. Mereka tidak hendak sempat bertato bila mereka ialah eksekutif senior di bank.”

BACA JUGA : 5 Tempat Prostitusi Terbesar di Indonesia. Nomor. 1& 2 Populer Hingga Mancanegara!

Di sebagian negeri, pimpinan yang bertato sama sekali tidak masuk ide. Jepang mempunyai ikatan tidak menggunakan dengan seni rajah badan ini.

wanita bertatto di tempat umum

Tato semenjak lama berhubungan dengan yakuza. Anggota geng Jepang dapat kita ketahui mempunyai desain tato rumit buat menampilkan kekayaan, maskulinitas, serta keahlian mereka menahan rasa sakit.

Tato dilarang oleh hukum Jepang hingga tahun 1948. Lebih dari 70 tahun setelah itu, orang- orang bertato secara universal masih belum dikira diterima secara sosial.

Piala Dunia Rugbi 2019 serta Olimpiade pertengahan 2020 di Tokyo mengungkap kembali perkara ini. Di negeri yang menyangka tabu memajang tato di depan universal, haruskah para atlet serta pemirsa menutupi foto seni di badan mereka?

Stigma Sosial Terhadap Tatto Konservatisme ini membuat Yutaro frustrasi. Dia merupakan salah satu owner studio tato bernama Red Point di London. Dia berasal dari Chiba, sesuatu daerah di dekat Tokyo.

Kala istirahat sejenak dari proses menggambar tato Hakutaku, makhluk seram dari mitologi Jepang serta Cina, Yutaro- yang memakai satu nama- melampiaskan kekesalannya.

” Tato merupakan fenomena budaya, orang- orang menghias badan mereka buat merasakan perihal tertentu, namun orang- orang di Jepang susah keluar dari pola pikir mereka,” katanya.

Pemikiran terhadap tato kerap kali sama rumitnya dengan desain itu sendiri. Tetapi untuk para penggemar seni rajah badan permanen, tato merupakan tren yang hendak terus terdapat.

Stigma Sosial Terhadap Tatto
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments